Profil Deviana Deviana

30
Points

Pertanyaan
2

Jawaban
5

  • Asked on January 20, 2016 in Apa aja deh.

    Ada ulasan sangat bagus Teror Jakarta dari Ridwan Habib, Peneliti kajian stratejik intelijen UI

    Aku kutip sedikit di sini

    QUOTE
    Tulisan ini berupaya menjawab secara ringkas tiga hal tersebut. Pertama, tentang ISIS dan Bahrun Naim sebagai pihak yang diduga bertanggungjawab dalam teror itu. Perlu diketahui, penanganan terorisme menggunakan dua cara. Yakni olah TKP dan analisa data intelijen yang sudah dimiliki sebelumnya.

    Cara pertama dan selalu digunakan adalah metode yang disebut dengan crime scene investigation. Ini identifikasi berdasarkan pelaku (atau diduga pelaku) yang tewas, bahan-bahan bom, senjata, dan benda lain yang ditemukan di lapangan.

    Perlu diingat, semua pelaku wajahnya masih bisa dikenali. Bahkan, foto pelaku saat masih hidup langsung tersebar ke dunia maya hanya beberapa jam setelah serangan.

    Dari foto itu, penyidik anti teror bisa mencocokkan dengan database yang sudah dimiliki. Jika ada kemiripan, lantas dikonfirmasikan ke rekan-rekan mereka yang sudah ditangkap sebelumnya, atau dikonfirmasikan ke sesama napi, jika foto itu diduga residivis.

    Itulah kenapa Afif alias Sunakim, penyerang dengan pistol dari kerumunan langsung bisa diketahui namanya. Lantas, bisa dilacak apa afiliasi Afif selama di penjara dan di mana alamat terakhirnya selepas keluar dari penjara, apa nomer ponsel yang digunakan, dan siapa saja yang berinteraksi dengannya.

    Karena itulah, para pelaku itu diduga mengenakan sabuk yang disebut sabuk isytihadah atau sabuk bom bunuh diri. Fungsinya untuk menghancurkan diri sendiri se hancur-hancurnya agar jaringan tidak bisa dikenali. Namun, rencana mereka gagal. Sabuk meledak tak maksimal dan wajah mereka masih utuh.

    Data TKP itu lalu dipadukan dengan data intelijen yang sudah ada sebelumnya. Jangan lupa, pada 23 Desember 2015 atau sekitar tiga minggu sebelum peristiwa teror Thamrin, Densus 88 sudah menangkap Arif Hidayatulloh alias Abu Mush’ab, terduga teroris yang ditangkap di sekitar Taman Harapan Baru, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi.

    Dari penangkapan Arif, dikembangkan dan ditangkap jaringannya di Tasikmalaya dan Bandung, bahkan seorang warga Uighur juga ikut terciduk. Mereka sudah mengakui di depan penyidik bahwa didanai dan digerakkan oleh Bahrun Naim, seorang mantan napi yang sekarang diketahui bergabung dengan ISIS dan tinggal di Raqqa, Suriah.

    Jadi jelas alasannya, mengapa Kapolda Metro Jaya berani menyampaikan kepada pers di Istana Negara soal ISIS dan Bahrun Naim karena didukung fakta dan data.

    Kedua, soal tudingan bahan bom yang ecek-ecek dan pelaku yang amatiran. Soal bahan peledak, pemerintahan era Jokowi memang melakukan pengawasan lebih ketat terhadap bahan-bahan peledak. Itu yang membuat kelompok ini memodifikasi bahannya dengan memakai pupuk urea.

    Rangkaiannya pun sederhana dan mempunyai efek mematikan karena dicampur dengan ratusan paku dan gotri. Pistol yang digunakan Afif juga sisa-sisa konflik Mindanao, yang kemungkinan besar masuk ke Indonesia melalui jalur laut dan berpindah ke Mujahidin Poso, lantas secara berantai bisa sampai pada Sunakim.

    Mengapa Afif tidak berhasil menembak lebih banyak korban? Jawabnya murni karena dia memang bukan kombatan. Afif adalah pemuda biasa yang bergabung dengan pengajian Amman Abdurahman 2008, dan berlatih ala militer selama 2 bulan di Gunung Jalin Jantho Aceh pada 2010.

    Dia hanya berlatih sesaat sebelum seluruh kelompok itu ditangkapi oleh polisi termasuk Afif. Dia lantas ditahan di LP Cipinang, terus mengkaji ideologi Amman (yang sekarang figur ideologi paling penting pro-ISIS di Indonesia) dan patuh pada kelompok napi Cipinang yang pro-ISIS.

    Lihat saja dari foto yang beredar di media. Afif mengokang pistol dengan tangan kanan. Padahal bukan kidal, jarinya pun masuk pelatuk (sebuah hal tabu bagi penembak profesional) dan tangan kiri menahan blowback yang mengakibatkan tangan justru bergoyang (shaking).

    Jika Afif adalah penembak terlatih, bisa dibayangkan berapa belas korban nyawa yang bisa melayang dalam kerumunan itu.

    Pertanyaan ketiga, kenapa pemerintah bergerak begitu cepat? Silakan buka dokumentasi google. Jauh hari sebelum Natal, Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan sudah menyampaikan peringatan ada kemungkinan aksi teror mirip Prancis di Jakarta.
    END QUOTE

    selengkapnya ada di link berikut
    [OPINI] Teror Jakarta dan Tudingan Rekayasa

    • 2130 views
    • 9 answers
    • 1 votes
    • 2130 views
    • 9 answers
    • 1 votes
  • Asked on January 14, 2016 in Apa aja deh.

    Masih belum jelas nih. Simpang siur.
    Tapi yang pasti semua daerah siaga satu

    Mendagri – semua daerah siaga satu

    Hati2 ya. Siaga dan jangan kemana2 dulu kayanya.

    • 2130 views
    • 9 answers
    • 1 votes
  • Asked on January 9, 2016 in Karir.

    aku coba kutip dari sini priandoyo.wordpress.com – berapa-gaji-engineer-itu-tips-interview

    Salah satu pertanyaan yang kerap ditanyakan rekan-rekan pada saat akan interview, pindah pekerjaan ataupun mempertimbangkan antara menjadi karyawan atau wirausaha, adalah tentang gaji, berapakah kita akan dibayar untuk mengerjakan pekerjaan yang sangat membosankan itu. Menjawab pertanyaan ini kita perlu mempertimbangkan beberapa hal:

    A. Standar Kompetensi
    Pada negara berkembang (indonesia tepatnya) Engineer Telco menduduki kompetensi termahal dibandingkan rekan-rekannya di Informatics, Machnine (Manufacturing), Oil & Gas, Civil, atau Chemical. Hal ini didasari fakta bahwa:

    1. Pass in grade elektro ITB, UI, UGM, STT, ITS dan bahkan univ. swasta termasuk paling tinggi dibandingkan bidang yang lain. Lebih khusus lagi elektro Telkom menduduki rangking top dibanding arus kuat, arus lemah dsb dkk.

    2. Industri Telco di Indonesia sedang tumbuh pesat, bandingkan dengan era 70-an dimana Civil construction booming. Pertumbuhan ini juga didukung dengan working environment yang lebih nyaman dibandingkan pekerjaan di Oil Drilling, di proyek-proyek civil yang panas dan berdebu, atau dibandingkan project ditengah hutan dan laut. Umumnya pekerjaan Telco dilaksanakan diruang-ruang bising ber-AC ditengah2 pagi buta.

    B. Standar Industri
    Telkom Indonesia yang kapitalisasinya mencapai 150T dan next 2010 ditargetkan 300T, memberikan profit yang lebih besar dibandingkan Pertamina dan Bank Mandiri, para raksasa di kategorinya masing-masing. Indonesia diuntungkan jumlah user yang besar, barrier telco yang rendah, dll silahkan dianalisa sendiri, compare to others.

    C. Standar tipe pekerjaan (vendor atau end user)
    Vendor termasuk konsultan, auditor, lawyer, creative, etc professional third party seperti Siemens, Ericcson, Nokia, ZTE, Huawei memiliki tipe pekerjaan yang berbeda dibandingkan end user semacem XL, atau ISAT.

    Vendor seringkali menggaji engineernya diatas end user mengingat waktu kerjanya yang lebih panjang, ready to call, standby dkk pressure lainnya. Vendor pada umumnya memiliki kesempatan belajar yang lebih besar dibandingkan end user. Dan vendor seringkali berstatus temporary employee, mengingat ketidak pastian project, kebijakan global (ex: Siemens)

    Analisa Gaji:
    Langsung aja berikut analisanya:
    1. Major GSM player (TSEL, ISAT, EXCL)
    a. Fresh Graduate Staff (>4 juta, total/month)
    Experience Staff (4 juta x 10-20% each year increament)
    b. Supervisor/Analist (for some company using specialist): Twice the staff, 8-12 juta
    c. Manager/Specialist: twice the supervisor, 15-25 juta
    Example: XL fresh: 4.5 juta (include bonus, facility)

    2. Secondary player (BT, FREN, also new comer HTT, NTT)
    Fresh Graduate (2> juta, total.month)
    Example: Bakrie Telecom Fresh: 1.7 juta (exclude facility etc)

    • 1319 views
    • 1 answers
    • 0 votes
  • Asked on January 8, 2016 in Kuliner.

    Kalau aku sih sukanya mie ceker bandung yang di tebet. Paling top deh itu mie yamin nya.

    Coba buka link search nya buat lokasi nya

    mie ceker bandung

    This answer accepted by Ddd. on December 13, 2017 Earned 15 points.

    • 1352 views
    • 2 answers
    • 0 votes