Ada bom tembakan di sarinah jakarta, ada info ?

Kabarnya ada bom tembakan di sarinah jakarta itu teroris ya? Share informasi dong teman2.

Ada bom tembakan di sarinah jakarta, ada info ?

Asked on January 14, 2016 in Apa aja deh.
Add Comment
9 Answer(s)

Masih belum jelas nih. Simpang siur.
Tapi yang pasti semua daerah siaga satu

Mendagri – semua daerah siaga satu

Hati2 ya. Siaga dan jangan kemana2 dulu kayanya.

Answered on January 14, 2016.
Add Comment

Di duga teroris ya, cuma katanya bukan bom tapi granat , ngeri bgt dah ah, apa hanya daerah thamrin aja?? Atau ada yg tau denger” ada di palmerah dan alamsutra jg

Answered on January 14, 2016.
Add Comment

Iya ada kabar di gedung cakrawala juga.

Ini ada daftar korban sementara dr detik

Berikut daftar nama korban yang ditangani di RSPAD, Kamis (14/1/2016):

1. Budi Rachmat, 35 tahun, warga Green Depok City, Blok Anggrek 2
2. Aiptu Dadi Maryadi, 48 tahun, anggota Lantas Jakpus unit Menteng
3. Aiptu Budiono 43 tahun, anggota Polres Jakarta Pusat
4. Anggun Artikasari 24 tahun, warga Condet, Jaktim
5. Chairil Islamubin, 21 tahun, warga Grogol, Jaktim
6. Yohannes Antonius Maria, WN Belanda, alamat Jalan Bangka usia 48 tahun
7. Mr X, warga asing

Answered on January 14, 2016.
Add Comment

Yg kuningan. Palmerah. Alsut Kayanya hoax deh

Answered on January 14, 2016.
Add Comment

Denger” uda ketangkep 7 org isu apa hoax nih?

Answered on January 14, 2016.
Add Comment

sepertinya masih hoax tuh. yg pasti lima sudah di lumpuhkan

RE: Ada bom tembakan di sarinah jakarta, ada info gak?

Lima teroris berhasil dilumpuhkan. Polisi masih lakukan pemeriksaan lokasi kejadian

Answered on January 14, 2016.
Add Comment
Answered on January 14, 2016.
Add Comment

Info terbaru nih teman-teman

RE: Ada bom tembakan di sarinah jakarta, ada info gak?

Penembak Polisi di Thamrin Tukang Urut Aman Abdurahman

Answered on January 14, 2016.
Add Comment

Ada ulasan sangat bagus Teror Jakarta dari Ridwan Habib, Peneliti kajian stratejik intelijen UI

Aku kutip sedikit di sini

QUOTE
Tulisan ini berupaya menjawab secara ringkas tiga hal tersebut. Pertama, tentang ISIS dan Bahrun Naim sebagai pihak yang diduga bertanggungjawab dalam teror itu. Perlu diketahui, penanganan terorisme menggunakan dua cara. Yakni olah TKP dan analisa data intelijen yang sudah dimiliki sebelumnya.

Cara pertama dan selalu digunakan adalah metode yang disebut dengan crime scene investigation. Ini identifikasi berdasarkan pelaku (atau diduga pelaku) yang tewas, bahan-bahan bom, senjata, dan benda lain yang ditemukan di lapangan.

Perlu diingat, semua pelaku wajahnya masih bisa dikenali. Bahkan, foto pelaku saat masih hidup langsung tersebar ke dunia maya hanya beberapa jam setelah serangan.

Dari foto itu, penyidik anti teror bisa mencocokkan dengan database yang sudah dimiliki. Jika ada kemiripan, lantas dikonfirmasikan ke rekan-rekan mereka yang sudah ditangkap sebelumnya, atau dikonfirmasikan ke sesama napi, jika foto itu diduga residivis.

Itulah kenapa Afif alias Sunakim, penyerang dengan pistol dari kerumunan langsung bisa diketahui namanya. Lantas, bisa dilacak apa afiliasi Afif selama di penjara dan di mana alamat terakhirnya selepas keluar dari penjara, apa nomer ponsel yang digunakan, dan siapa saja yang berinteraksi dengannya.

Karena itulah, para pelaku itu diduga mengenakan sabuk yang disebut sabuk isytihadah atau sabuk bom bunuh diri. Fungsinya untuk menghancurkan diri sendiri se hancur-hancurnya agar jaringan tidak bisa dikenali. Namun, rencana mereka gagal. Sabuk meledak tak maksimal dan wajah mereka masih utuh.

Data TKP itu lalu dipadukan dengan data intelijen yang sudah ada sebelumnya. Jangan lupa, pada 23 Desember 2015 atau sekitar tiga minggu sebelum peristiwa teror Thamrin, Densus 88 sudah menangkap Arif Hidayatulloh alias Abu Mush’ab, terduga teroris yang ditangkap di sekitar Taman Harapan Baru, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi.

Dari penangkapan Arif, dikembangkan dan ditangkap jaringannya di Tasikmalaya dan Bandung, bahkan seorang warga Uighur juga ikut terciduk. Mereka sudah mengakui di depan penyidik bahwa didanai dan digerakkan oleh Bahrun Naim, seorang mantan napi yang sekarang diketahui bergabung dengan ISIS dan tinggal di Raqqa, Suriah.

Jadi jelas alasannya, mengapa Kapolda Metro Jaya berani menyampaikan kepada pers di Istana Negara soal ISIS dan Bahrun Naim karena didukung fakta dan data.

Kedua, soal tudingan bahan bom yang ecek-ecek dan pelaku yang amatiran. Soal bahan peledak, pemerintahan era Jokowi memang melakukan pengawasan lebih ketat terhadap bahan-bahan peledak. Itu yang membuat kelompok ini memodifikasi bahannya dengan memakai pupuk urea.

Rangkaiannya pun sederhana dan mempunyai efek mematikan karena dicampur dengan ratusan paku dan gotri. Pistol yang digunakan Afif juga sisa-sisa konflik Mindanao, yang kemungkinan besar masuk ke Indonesia melalui jalur laut dan berpindah ke Mujahidin Poso, lantas secara berantai bisa sampai pada Sunakim.

Mengapa Afif tidak berhasil menembak lebih banyak korban? Jawabnya murni karena dia memang bukan kombatan. Afif adalah pemuda biasa yang bergabung dengan pengajian Amman Abdurahman 2008, dan berlatih ala militer selama 2 bulan di Gunung Jalin Jantho Aceh pada 2010.

Dia hanya berlatih sesaat sebelum seluruh kelompok itu ditangkapi oleh polisi termasuk Afif. Dia lantas ditahan di LP Cipinang, terus mengkaji ideologi Amman (yang sekarang figur ideologi paling penting pro-ISIS di Indonesia) dan patuh pada kelompok napi Cipinang yang pro-ISIS.

Lihat saja dari foto yang beredar di media. Afif mengokang pistol dengan tangan kanan. Padahal bukan kidal, jarinya pun masuk pelatuk (sebuah hal tabu bagi penembak profesional) dan tangan kiri menahan blowback yang mengakibatkan tangan justru bergoyang (shaking).

Jika Afif adalah penembak terlatih, bisa dibayangkan berapa belas korban nyawa yang bisa melayang dalam kerumunan itu.

Pertanyaan ketiga, kenapa pemerintah bergerak begitu cepat? Silakan buka dokumentasi google. Jauh hari sebelum Natal, Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan sudah menyampaikan peringatan ada kemungkinan aksi teror mirip Prancis di Jakarta.
END QUOTE

selengkapnya ada di link berikut
[OPINI] Teror Jakarta dan Tudingan Rekayasa

Answered on January 20, 2016.
Add Comment

Your Answer

By posting your answer, you agree to the privacy policy and terms of service.